عن أنس قال قال رسول الله صلّى الله عليه
وسلّم : "إعتدلوا فى صفو فكم، وترصو، فإنّي أراكم وراء ظهري!"؛ قال أنس
: "فلقد رايت أحدنا يلزق منكبه بمنكب صاحبه وقدمه بقدمه" (متفق عليه
Artinya
: Dari Anas, ia berkata : Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam telah
bersabda : “Luruskan Shof-mu dan hendaklah kamu merapatkannya karena
sesungguhnya aku dapat melihatmu dari belakang punggungku!”. Anas berkata :
“Dan saya melihat bahwa para sahabat saling merapatkan bahu-bahu mereka dengan
bahu yang ada di sebelahnya, dan mereka juga merapatkan kaki-kaki mereka dengan
kaki yang ada di sebelahnya.” [Mutafaqun ‘Alaih]
Isbal adalah memanjangkan, melabuhkan, dan menjulurkan
pakaian melebihi mata kaki
Dalil tentang Isbal :
عن أبي ذرّ عن النّبيّ قال : ثلاثة لا يكلّمهم
الله يوم القيامة لا ينظر إليهم ولا يزكّيهم و لهم عذاب أليم؛ قال فقرأها رسول الله
ثلاث مرارا، قال أبو ذرّ : خابو وخسروا من هم يا رسول الله؟ قال : المسبل والمنّان
والمنفق سلعته بالحلف الكاذب
Artinya : Dari Abu Dzar, bahwasanya Rosululloh
bersabda : “Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara, tidak akan
dilihat, dan tidak akan disucikan oleh Alloh, bagi mereka adzab yang pedih.”;
Rosululloh mengulangi perkataannya sebanyak tiga kali. Abu Dzar berkata : “gagal
dan merugilah mereka, siapakah mereka wahai Rosululloh?”. Rosululloh menjawab :
“Orang yang memanjangkan pakaiannya, yang suka mengungkit-ungkit pemberian, dan
yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu”. [HR. Muslim (No.106), Abu
Dawud (No.4087), An-Nasa’i (No.4455), dan Ad-Darimy (No.2608)]
عن عبد الله بن عمر قال : قال رسول الله
: من جرّ ثوبه خيلاء لم ينظرالله إليه يوم القيامة
Artinya : Dari ‘Abdulloh bin ‘Umar, ia berkata :
Rosululloh bersabda : “Barangsiapa yang melabuhkan pakaiannya karena sombong
maka Alloh tidak akan melihatnya pada hari kiamat”. [HR. Bukhori (No.5783) dan
Muslim (No.2085)]
Dahulu
ada seorang Syaikh ahli hadits yang mengajarkan hadits-hadits di daerah
Dimasyq. Dan Syaikh tersebut memiliki murid yang cukup banyak. Setiap kali
Syaikh tsb menyampaikan ilmu maka Syaikh membuat tabir atau penutup wajah
antara dirinya dengan para murid sehingga selama mereka belajar di sana tidak
pernah sekali pun mereka melihat wajah gurunya. Rasa penasaran para murid pun
semakin menjadi, hingga salah seorang diantara mereka yang merupakan murid yang
paling semangat dalam menuntut ilmu dan paling cerdas membuntuti Syaikh hingga
sampai dirumahnya. Akhirnya, Syaikh pun mengetahui hal tersebut dan kemudian
Syaikh bertanya kepada muridnya itu tentang maksud dan tujuannya melakukan hal
tersebut.
“Ya,
Syaikh! Engkau adalah guru kami dan kami sangat menghormatimu. Kami telah
belajar kepadamu beberapa lama akan tetapi kami tidak pernah sekali pun melihat
wajahmu, engkau selalu menutupnya dari kami. Oleh karena itu, kami penasaran
akan hal itu maka ijinkanlah kami untuk melihat wajahmu agar kami dapat mengenalimu
jika bertemu dijalan sehingga kami dapat melakukan penghormatan kepadamu
selayaknya penghormatan seorang murid kepada gurunya!”, Ucap Sang Murid
berusaha menerangkan kepada Syaikh.
“Wahai, Shohabiyah Nabi! Sudikah anda memberitahukan kepadaku
tentang suatu hadits yang anda sendiri mendengarnya langsung dari Rosululloh?”, tanya Imam Asy-Sya’bi kepada Fathimah binti Qois yang berada
dibalik Hijab (tabir).
“Ya, jika itu yang kau mau, aku akan sampaikan kepadamu mengenai
suatu hadits tersebut...!”,
jawab Fathimah bin Qois.
“Baiklah, Wahai Shohabiyah Rosul! Sampaikanlah kepadaku...”, ucap Imam Asy-Sya’bi dengan gembira karena akan mendapatkan
salahsatu dari dua pusaka Nabi yg mulia itu.
Kemudian,
dengan segera beliau (Fathimah binti Qois) menuturkan sebuah kisah :
Siang
hari itu, aku mendengar suara orang yang berseru dengan suara lantang yang
ternyata setelah aku lihat, orang itu adalah penyeru Rosululloh. ”Ash-Sholatu
Jami’ah, Ash-Sholatu Jami’ah”, itulah suara yang aku dengar dari ucapan
penyeru tersebut yang merupakan panggilan untuk melaksanakan sholat berjama’ah
bersama dengan Kekasih-ku, Rosululloh Muhammad. Segera tanpa fikir panjang, aku
pun bergegas pergi ke masjid yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahku,
begitu pula dengan yang lainnya, mereka semua pun bergegas untuk pergi ke
masjid. Setelah semua telah berkumpul, kami pun sholat bersama dengan
Rosululloh, sedangkan aku saat itu berada di Shof (barisan) paling
belakang, tepat di belakang Shof laki-laki. Setelah beberapa lama
kemudian, sholat pun akhirnya usai lalu Rosululloh pun bersegera duduk di atas
mimbar dengan dibarengi senyumnya yang indah dan menawan itu,
Artinya : "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak)
selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
Segungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar
supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. Maka sekali-kali
janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya
dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi
binasa." [QS. Thoohaa : 14-16]
لو كنت متّحد خليلا
لا تّخذت ابا باكر، ولكن اخي و صاحبي
“Seandainya, aku diperbolehkan mengambil kekasih selain Alloh,
niscaya aku akan memilih Abu Bakar sebagai kekasih, akan tetapi ia adalah
saudaraku dan sahabatku.”
Tak Kenal Maka Tak Cinta
Mari Mengenal Khulafaur Rosyidin Al-Mahdiyin, Abu Bakar Ash-Shiddiq
Rodhiyallohu ‘Anhu !!!
Nasab Beliau
Hayo...Siapa nama beliau yg sebenarnya, ada yg tahu? ‘Abu Bakar’ itu bukan nama
asli beliau, itu hanyalah nama kunyah (panggilan) beliau. O, iya! Mempunyai
nama kunyah itu merupakan Sunnah Rosul, loh! Rosul sendiri memiliki nama
kunyah, apa nama kunyah Rosul? Ya, benar! Nama kunyah beliau adalah Abu
Al-Qosim dan Abu Ibrohim. Kembali ke nama asli dari Abu Bakar
Ash-Shiddiq, nama asli beliau adalah Abdulloh bin ‘Utsman bin Amir bin Amr
bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murroh bin Ka’ab bin Lu’ai bin Gholib bin Fihr
Al-Quroisy At-Taimi. Huh...kecapean kalo harus menyebutkan sepanjang ini,
agar mudah mengingatnya, kita katakan bahwa nama beliau adalah Abdulloh bin
‘Utsman At-Taimi.
Salahsatu dari Rukun Islam adalah Dua Kalimat Syahadat tapi pernahkah kita tahu apa makna, rukun, syarat, dan pembatal kalimat tersebut!!! Belum Tahu? Yuk, kita simak ringkasan dari penjelasan Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin Abdulloh bin Fauzan -Rohimahulloh- :