Laman

Selasa, 02 April 2013

Hukum Memotong Janggut Menurut Para Ulama 4 Madzhab


Dalil tentang disyari’atkannya memelihara Janggut :

خالفوا المشركين وفروا اللحى وأحفوا الشوارب

Artinya : “Selisihilah oleh kalian orang-orang musyrik, lebatkanlah janggut dan potonglah kumis.” [HR. Bukhori (No.5553) & Muslim (No.259)]

أحفوا الشوارب وأعفوا اللحى

Artinya : “Potonglah kumis* kalian dan peliharalah janggut.” [HR. Muslim (No.259)]


انهكوا الشوارب وأعفوا اللحى

Artinya : “Potong sampai habis kumis kalian dan peliharalah janggut.” [HR. Bukhori (No.5554)]

جزوا الشوارب وأرخوا اللحى خالفوا المجوس


Artinya : “Cukurlah kumis kalian dan panjangkanlah janggut, selisihilah oleh kalian kaum majusi.” [HR. Al-Bazzar (No.8123), hasan]

Hadits-hadits di atas begitu jelas bahwa MEMELIHARA JANGGUT merupakan SUNNAH NABI. Oleh karena itu, tidak sepantasnya kita sebagai orang islam menghinakannya, meremehkannya, dan mencemoohnya**. Bahkan seharusnya, kita mengagungkan dan mengamalkannya walaupun misalkan kita tidak atau belum mengamalkannya maka setidaknya kita menghargai dan menghormati orang yang mengamalkan sunnah nabi ini.

Pandangan Para Ulama 4 Madzhab dan selainnya tentang mencukur janggut :

Perlu diterangkan terlebih dahulu di sini bahwa Para Ulama 4 Madzhab (Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hanabilah, dan Hanafiyyah), Dhohiriyyah, dan selainnya, mereka semua sepakat tentang HARAMNYA MENCUKUR JANGGUT SAMPAI HABIS/GUNDUL***. Adapun dalam masalah memotong janggut yang panjangnya melebihi genggaman tangan yang kemudian dipotong hingga tersisa sepanjang gengaman tangan, maka Para Ulama berselisih pendapat :

1.      Tidak memotong janggut sama sekali dengan membiarkan sebagaimana adanya. Ini adalah pendapatnya Imam Asy-Syafi’i dalam satu nukilan, sebagian ulama bermadzhab Syafi’iyyah, sebagian ulama bermadzhab Hanabilah, dan ulama lainnya.

2.      Tidak memotong janggut sama sekali dengan membiarkan sebagaimana adanya, kecuali dalam ibadah Haji dan Umroh. Pendapat ini dipegang oleh Mayoritas Tabi’in, Imam Asy-Syafi’i, (Hal yang disukai oleh) Imam Malik, dan ulama lainnya.

3.      Diperbolehkan memotong janggut yang terlalu panjang apabila janggut tersebut membuat jelek penampilan. Pendapat ini merupakan pendapat terkenal dari Imam Malik dan Al-Qodhi ‘Iyadh.

4.      Disukai untuk memotong janggut dalam keadaan apapun. Ini adalah pendapat terkenal dari Para Ulama bermadzhab Hanafiyyah, Imam Ahmad, Para Ulama bermadzhab Hanabilah, dan ulama lainnya serta sebagian Tabi’in.


Itulah pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh Para Ulama, kita boleh memilih pendapat yang mana saja dari ke empat pendapat tersebut. Akan tetapi, kita lihat terlebih dahulu diantara empat pendapat di atas mana yang lebih kuat dalilnya****. (Disusun berdasarkan pada Tulisan Ustadz Abul Jauza dengan sedikit perubahan)

___________________________________

*) Para Ulama berbeda pendapat dalam masalah memotong kumis ini, ada yang berpendapat “Dicukur sampai habis/gundul” dan ada yang berpendapat “Hanya dipotong saja, tidak sampai gundul”.

**) Banyak diantara kaum muslimin apabila melihat orang berjanggut, mereka mengejeknya dengan mengatakan : “Si Jenggot Kambing”, “Si Jenggot Naga”, “Si Brewok”, “Teroris”, “Si Wahhabi”, dsb. Dan banyak pula yang mengejek orang yang tidak Isbal dengan mengatakan : “Si Cingkrang”, “Kebanjiran”, “Si Wahhabi”, “Teroris”, “Petani”, dsb.

***) Itu Bagi mereka yang memang memiliki janggut. Adapun bagi mereka yang tidak memiliki janggut ‘dari sananya’ maka tidak berdosa dan tidak perlu menggunakan obat penumbuh janggut untuk mengikuti Sunnah Nabi ini.

****) Penulis (Ustadz Abul Jauza) lebih menguatkan pendapat yang kedua, silahkan dicek langsung di http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/05/hukum-jenggot-dalam-syariat-islam.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Para Pengunjung yang budiman! Silahkan untuk memberikan saran, kritikan, dan komentarnya mengenai artikel yang ada di web ini. Namun, tetap memperhatikan etika dalam memberikan saran, kritikan, dan komentar.